Published at 06/07/2020
BANYUWANGI MENGAJAR,
BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi keluarkan jurus
ampuh untuk peningkatan kualitas SDM di desa-desa yang secara geografis sulit
dijangkau. Ya program “Banyuwangi Mengajar” sebuah gerakan yang mengajak lulusan perguruan tinggi untuk
mengabdikan ilmunya kepada anak-anak pedesaan. Meski fasilitas terbatas. Senin,
6 Juli 2020
Tiap tahun, puluhan
sarjana muda dikirim ke desa-desa dan wajib tinggal di sana selama satu tahun.
Tahun ini, Pemkab Banyuwangi merekrut 50 sarjana muda untuk program itu.
Bupati Banyuwangi
Abdullah Azwar Anas mengunjungi salah satu sekolah yang menjadi lokasi
penempatan sarjana muda di program Banyuwangi Mengajar, yaitu di SDN 4
Segobang, Kecamatan Licin. Menuju sekolah ini tidaklah mudah, karena jalan yang
dilalui mendaki di antara hamparan sawah. Tempat ini juga biasa dijuluki
sebagai “kahyangan”, karena letaknya di dataran tinggi seolah nyaris menyentuh
awan.
“Ini adalah upaya
transformasi SDM. Ingat, desa bukan hanya butuh dana, tapi juga butuh inspirasi
yang bisa digerakkan oleh anak-anak muda ini. Mereka mengajar, berinteraksi,
memberi kursus dan sebagainya. Kehadiran mereka memberi nilai tambah bagi
pendidikan anak-anak di sini,” ujar Azwar Anas.
Program ini mengajak
para lulusan perguruan tinggi untuk mengabdikan ilmunya dengan mengajar anak
usia sekolah di wilayah pelosok Banyuwangi. Para pengajar ini diberikan
insentif bulanan secara khusus oleh Pemkab Banyuwangi. Peserta Banyuwangi
Mengajar yang ditugaskan di SDN 4 Segobang, Licin, adalah Fina Fitriani (23),
lulusan Fakultas Keperawatan Universitas Jember dengan IPK 3,68. Dia sudah
mengajar selama enam bulan di sekolah tersebut. “Mengajar dan tinggal di sini
membuat saya memaksimalkan kemampuan yang saya miliki,” ujar Fina. Fina
mengatakan, selain mengajar di kelas, dia memberikan penyuluhan kesehatan
setiap Jumat atau Sabtu untuk seluruh siswa.
Penyuluhan yang
diberikan seputar cara hidup sehat untuk mencegah timbulnya penyakit, sehingga
bisa meningkatkan derajat kesehatan di wilayah tersebut. Adapun penyuluhan
kesehatan bagi warga dilakukan setiap Rabu dan Kamis malam dengan kemasan
pengajian rutin. “Misalnya saya beri pengenalan dan pencehahan berbagai
penyakit seperti darah tinggi, kolesterol, asam urat dan lain-lain,” ujarnya.
Mengikuti program ini
membuat pengalaman Fina menjadi lebih berwarna. “Setiap berangkat mengajar,
sepanjang jalan 500 meter, setiap orang yang saya jumpai pasti menyapa dan
mengajak mampir di rumahnya. Membantu warga dan anak-anak di desa ini menjadi
bekal pengalaman luar biasa bagi saya untuk mengarungi masa depan,” cetusnya.
Plt. Kepala Dinas
Pendidikan Suratno mengatakan, Banyuwangi Mengajar di setiap angkatan diikuti
50 pengajar muda. “Tahun ini kami akan merekrut 50 orang lagi secara terbuka.
Silakan siapa saja yang punya passion di bidang pendidikan untuk ikut seleksi,”
ujarnya.